GESER UNTUK MEMASUKI

INTERNATIONAL ARCHITECTURE · DESIGN STUDIO

Postmodernisme dan Kembalinya Makna

Volume 02 · Sejarah Arsitektur dan Peradaban · 8 menit membaca.

GS / 2026ARCHITECTURE BEYOND TOMORROW

Tulisan Postmodernisme dan Kembalinya Makna merupakan bagian dari Pustaka Graha Svarga—ruang pengetahuan yang mempertemukan arsitektur, manusia, teknologi, konstruksi, dan kemungkinan kehidupan masa depan.

Pengantar

Modernisme datang dengan sebuah keberanian besar: meninggalkan peniruan sejarah dan mencari bahasa arsitektur yang sesuai dengan zaman industri.

Ornamen dikurangi. Struktur diperjelas. Fungsi memperoleh perhatian besar. Beton, baja, dan kaca tidak perlu disembunyikan di balik pakaian arsitektur masa lalu.

Namun ketika bahasa modernisme menyebar ke seluruh dunia, muncul persoalan baru.

Gedung perkantoran di satu negara dapat terlihat hampir sama dengan gedung di negara lain. Kota dipenuhi kotak kaca dan beton. Efisiensi meningkat, tetapi sebagian arsitektur mulai kehilangan sesuatu yang sulit diukur:

identitas, ingatan, simbol, kejutan, dan makna.

Dari kritik terhadap keadaan inilah berkembang berbagai gagasan yang kemudian dikenal sebagai postmodernisme.

Ketika Modernisme Menjadi Formula

Modernisme pada awalnya merupakan gerakan pembaruan.

Namun gagasan yang berhasil sering menghadapi masalah ketika digunakan berulang kali tanpa memahami alasan awalnya.

Bentuk sederhana menjadi formula.

Fasad kaca menjadi simbol kemajuan.

Atap datar, grid, beton, dan bidang putih digunakan di berbagai tempat.

Prinsip rasional yang awalnya membebaskan arsitektur perlahan dapat berubah menjadi bahasa yang sama ketatnya dengan tradisi yang pernah ditentangnya.

Masalahnya bukan karena bangunan modern selalu buruk.

Masalah muncul ketika arsitektur dianggap cukup hanya dengan menjadi rasional dan efisien.

Manusia ternyata membutuhkan lebih dari itu.

Manusia Tidak Hidup Hanya dengan Fungsi

Sebuah rumah memang harus dapat dihuni.

Sekolah harus mendukung kegiatan belajar.

Kantor harus memungkinkan manusia bekerja.

Namun manusia tidak mengalami bangunan hanya melalui fungsi.

Kita juga membaca tanda.

Kita mengingat bentuk.

Kita mengenali pintu masuk.

Kita menghubungkan tempat dengan sejarah.

Kita dapat merasa akrab, asing, terhibur, terintimidasi, atau penasaran oleh sebuah bangunan.

Artinya, arsitektur juga bekerja pada wilayah komunikasi dan makna.

Sebuah bangunan tidak hanya melakukan sesuatu.

Ia juga dapat mengatakan sesuatu.

Robert Venturi dan Kritik terhadap Kesederhanaan

Salah satu tokoh penting dalam perkembangan pemikiran postmodern adalah Robert Venturi.

Dalam Complexity and Contradiction in Architecture yang terbit pada 1966, Venturi mengkritik kecenderungan menyederhanakan arsitektur secara berlebihan.

Ia menerima kompleksitas, kontradiksi, ambiguitas, dan berbagai lapisan makna yang terdapat dalam bangunan dan kota.

Jika modernisme sering dikaitkan dengan ungkapan Mies van der Rohe, “less is more,” Venturi terkenal dengan tanggapan provokatif:

“Less is a bore.”

Pernyataan tersebut bukan sekadar ajakan untuk menambahkan dekorasi sebanyak mungkin.

Ia merupakan kritik terhadap keyakinan bahwa pengurangan selalu otomatis menghasilkan arsitektur yang lebih baik.

Kadang kehidupan memang rumit.

Dan arsitektur tidak selalu harus berpura-pura bahwa dunia sederhana.

Belajar dari Kota yang Dianggap Kacau

Venturi bersama Denise Scott Brown dan Steven Izenour kemudian menerbitkan Learning from Las Vegas.

Pilihan Las Vegas sebagai objek pembelajaran sangat menarik.

Bagi banyak arsitek modern pada masa itu, lanskap komersial Las Vegas dengan papan reklame besar, lampu, simbol, jalan raya, kasino, dan bangunan tematik mungkin terlihat sebagai kebalikan dari arsitektur yang dianggap serius.

Namun justru dari sana mereka mempelajari bagaimana manusia membaca lingkungan.

Pengendara mobil bergerak cepat.

Bangunan harus dikenali dari kejauhan.

Tanda menjadi penting.

Simbol dapat berkomunikasi lebih cepat daripada bentuk bangunan.

Arsitektur kemudian dipahami bukan hanya sebagai persoalan ruang dan struktur, tetapi juga sebagai sistem komunikasi.

Kembalinya Sejarah

Modernisme banyak mencoba melepaskan diri dari bahasa sejarah.

Postmodernisme membuka kembali pintu tersebut.

Kolom, pedimen, lengkung, warna, pola, dan berbagai elemen historis dapat muncul kembali.

Namun sering kali elemen tersebut tidak digunakan dengan cara yang sama seperti pada bangunan klasik asli.

Proporsinya dapat diubah.

Ukurannya diperbesar.

Materialnya berbeda.

Posisinya sengaja dibuat tidak biasa.

Bentuk historis dapat digunakan sebagai kutipan, simbol, bahkan humor.

Dengan demikian, sejarah tidak selalu dikembalikan sebagai aturan.

Ia dapat digunakan sebagai bahasa yang dapat dibaca dan ditafsirkan kembali.

Arsitektur Bisa Memiliki Humor

Ini merupakan perubahan menarik.

Modernisme sering menampilkan keseriusan: keteraturan, rasionalitas, struktur, dan ketepatan.

Postmodernisme menunjukkan bahwa arsitektur juga dapat bermain.

Sebuah kolom dapat dibuat terlalu besar.

Pedimen dapat digunakan dengan cara yang tidak biasa.

Warna dapat dibuat mencolok.

Elemen klasik dapat ditempatkan pada bangunan modern sehingga menghasilkan ketegangan antara masa lalu dan masa kini.

Bangunan tidak selalu harus berbicara dengan wajah serius.

Ia dapat mengandung ironi, kejutan, bahkan humor.

Namun kebebasan tersebut juga membawa risiko.

Ketika permainan bentuk kehilangan alasan, arsitektur dapat berubah menjadi sekadar dekorasi.

Simbol Membantu Manusia Membaca Bangunan

Bayangkan sebuah gedung yang seluruh fasadnya sama.

Pintu masuk tidak berbeda dari bagian lain.

Secara geometris mungkin sangat bersih, tetapi pengunjung harus mencari di mana harus masuk.

Bandingkan dengan bangunan yang memberikan penekanan pada entrance melalui kanopi, perubahan material, bentuk, cahaya, atau simbol.

Manusia dapat langsung membacanya.

Di sinilah makna memiliki fungsi praktis.

Arsitektur dapat berkomunikasi tanpa tulisan:

masuk dari sini.

bagian ini penting.

bagian ini publik.

bagian itu lebih privat.

Dengan demikian, simbol dan ekspresi tidak selalu bertentangan dengan fungsi.

Keduanya dapat membantu manusia memahami ruang.

Identitas Tempat Kembali Dipertanyakan

Penyebaran International Style menimbulkan pertanyaan lain.

Haruskah bangunan di berbagai negara terlihat sama hanya karena menggunakan teknologi yang sama?

Arsitektur berdiri di tempat tertentu.

Tempat memiliki iklim, sejarah, material, kebiasaan, ingatan, dan budaya.

Karena itu, sebagian pemikiran setelah modernisme mulai kembali memperhatikan konteks.

Bangunan tidak harus meniru arsitektur tradisional secara literal.

Namun ia dapat membangun hubungan dengan lingkungan tempatnya berdiri.

Skala jalan dapat diperhatikan.

Material lokal dapat dipelajari.

Pola kota dapat dihormati.

Sejarah dapat menjadi sumber gagasan.

Arsitektur kembali bertanya bukan hanya, “Bagaimana bangunan ini bekerja?”

Tetapi juga:

“Mengapa bangunan ini berada di sini?”

Michael Graves dan Bahasa yang Lebih Ekspresif

Tokoh seperti Michael Graves menunjukkan bagaimana bentuk klasik dapat diterjemahkan kembali dengan cara yang sangat berbeda.

Warna, geometri, elemen monumental, dan referensi historis digunakan untuk menciptakan arsitektur yang lebih komunikatif dibandingkan banyak bangunan modernis sebelumnya.

Salah satu contoh yang sering dibahas adalah Portland Building di Amerika Serikat.

Bangunan tersebut memperlihatkan perubahan jelas dari bahasa gedung perkantoran modern yang didominasi kaca dan struktur rasional.

Fasad kembali menjadi tempat ekspresi.

Bangunan ingin memiliki wajah.

Aldo Rossi dan Ingatan Kota

Tidak semua pemikiran setelah modernisme berfokus pada dekorasi.

Arsitek Italia Aldo Rossi, misalnya, memberikan perhatian besar terhadap kota, tipe bangunan, monumen, dan ingatan kolektif.

Kota tidak dianggap sebagai sesuatu yang dapat dihapus lalu dirancang ulang sepenuhnya dari nol.

Kota memiliki lapisan waktu.

Jalan lama tetap menyimpan pola.

Bangunan dapat berganti fungsi tetapi mempertahankan bentuk tertentu.

Monumen dapat bertahan ketika generasi manusia berubah.

Dengan demikian, arsitektur mempunyai hubungan dengan memori.

Sebuah kota bukan hanya mesin untuk aktivitas saat ini.

Ia juga merupakan tempat di mana masa lalu meninggalkan jejak.

Postmodernisme dan Kompleksitas

Salah satu kontribusi penting postmodernisme adalah keberaniannya menerima bahwa arsitektur dapat mempunyai lebih dari satu jawaban.

Bangunan dapat modern sekaligus merujuk sejarah.

Ia dapat serius sekaligus bermain.

Ia dapat efisien sekaligus simbolis.

Ia dapat menggunakan teknologi global sekaligus berbicara tentang tempat lokal.

Tidak semuanya harus diselesaikan melalui satu prinsip tunggal.

Dalam pengertian ini, postmodernisme menolak gagasan bahwa seluruh kompleksitas kehidupan dapat direduksi menjadi satu bahasa universal.

Manusia berbeda. Kota berbeda. Sejarah berbeda. Tempat berbeda.

Maka arsitektur pun dapat berbeda.

Ketika Makna Menjadi Dekorasi

Namun postmodernisme memiliki kelemahannya sendiri.

Ketika kebebasan menggunakan simbol dan sejarah menjadi populer, bentuk-bentuk historis dapat kembali digunakan tanpa pemahaman yang mendalam.

Kolom ditempel.

Pedimen menjadi dekorasi.

Warna digunakan untuk mengejutkan.

Simbol dipilih hanya agar bangunan terlihat berbeda.

Masalah lama kembali dalam bentuk baru.

Modernisme pernah mengkritik peniruan sejarah.

Postmodernisme membuka kembali sejarah.

Tetapi ketika sejarah hanya ditempelkan pada permukaan, arsitektur kembali terjebak pada bentuk tanpa alasan.

Ini memberikan pelajaran penting:

tidak ada gaya yang kebal terhadap peniruan.

Modernisme Tidak Benar-Benar Hilang

Postmodernisme juga tidak menghapus modernisme.

Struktur baja tetap digunakan.

Beton tetap digunakan.

Kaca tetap digunakan.

Elevator tetap membawa manusia ke gedung tinggi.

Denah modern tetap bekerja.

Sistem mekanis dan teknologi bangunan terus berkembang.

Yang berubah terutama adalah keyakinan bahwa teknologi dan fungsi saja cukup untuk menentukan seluruh bahasa arsitektur.

Dengan demikian, sejarah arsitektur tidak selalu bergerak dengan cara satu zaman menghancurkan zaman sebelumnya.

Sering kali lapisan baru muncul di atas lapisan lama.

Sebagian gagasan dipertahankan.

Sebagian dikritik.

Sebagian ditafsirkan kembali.

Makna Tidak Harus Berarti Ornamen

Pelajaran penting dari postmodernisme bukan bahwa arsitektur harus kembali penuh dekorasi.

Makna dapat hadir dengan banyak cara.

Material lokal dapat membawa ingatan tentang tempat.

Bangunan lama dapat dipertahankan dan diberi fungsi baru.

Sebuah halaman dapat mengikuti pola kehidupan masyarakat.

Skala fasad dapat merespons jalan di sekitarnya.

Entrance dapat dibuat mudah dikenali.

Struktur lama dapat dibiarkan terlihat sebagai jejak sejarah.

Bahkan bangunan yang sangat minimalis tetap dapat memiliki makna apabila memiliki hubungan kuat dengan tempat dan kehidupan manusia.

Jadi persoalannya bukan ornamen atau tanpa ornamen.

Persoalannya adalah apakah keputusan arsitektur mempunyai alasan yang dapat dipahami.

Dari “Bagaimana?” Menuju “Mengapa?”

Modernisme memberikan pertanyaan penting:

Bagaimana bangunan seharusnya bekerja?

Bagaimana material digunakan secara jujur?

Bagaimana teknologi baru dapat membentuk ruang baru?

Postmodernisme menambahkan pertanyaan lain:

Apa yang dikatakan bangunan ini?

Apa hubungannya dengan tempat?

Apa yang diingat manusia ketika melihatnya?

Mengapa bentuk ini dipilih?

Pertanyaan tersebut memperluas kembali wilayah arsitektur.

Bangunan bukan hanya objek teknis.

Ia juga merupakan bagian dari budaya.

Kembalinya Makna

Postmodernisme tidak memberikan satu jawaban akhir bagi arsitektur.

Justru kontribusi terbesarnya adalah menggoyahkan keyakinan bahwa hanya ada satu jalan menuju arsitektur yang benar.

Fungsi penting, tetapi manusia tidak hidup hanya melalui fungsi.

Struktur penting, tetapi manusia tidak mengalami struktur hanya sebagai perhitungan.

Teknologi penting, tetapi setiap teknologi selalu digunakan di dalam budaya dan tempat tertentu.

Sejarah dapat menjadi beban jika hanya ditiru, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan ketika dipahami.

Arsitektur akhirnya kembali menghadapi sesuatu yang sejak awal selalu berada di dalamnya:

makna.

Sebuah bangunan melindungi tubuh, mengatur aktivitas, dan menyediakan ruang.

Namun bangunan juga dapat membawa ingatan, identitas, simbol, cerita, dan hubungan dengan tempat.

Modernisme bertanya bagaimana arsitektur dapat menjadi milik zamannya.

Postmodernisme mengingatkan bahwa zaman tidak pernah berdiri sendirian.

Di belakangnya terdapat sejarah, di sekelilingnya terdapat budaya, dan di dalamnya terdapat manusia yang selalu berusaha memberi makna pada tempat yang mereka huni.

JEJAK PEMIKIRAN GRAHA SVARGA

Pengetahuan tidak dikumpulkan untuk berhenti sebagai teori. Ia digunakan untuk mempertajam cara membaca kehidupan, menjaga ketepatan keputusan, dan membawa kemungkinan menuju arsitektur yang dapat diwujudkan.

PENULIS

Setio Utomo

Founder dan Principal Designer Graha Svarga. Menarik kemungkinan menuju kenyataan melalui desain, BIM, visualisasi arsitektur, dan pengalaman pembangunan.

Mengenal pemikirannya →
Arsitektur masa depan Graha Svarga sebagai penutup artikel Postmodernisme dan Kembalinya Makna
GRAHA SVARGA · ARCHITECTURE BEYOND TOMORROWPengetahuan mengubah cara kita melihat. Graha Svarga membawanya kembali menuju ruang yang dapat dihuni.
WAKonsultasi