Tulisan Arsitektur Kontemporer merupakan bagian dari Pustaka Graha Svarga—ruang pengetahuan yang mempertemukan arsitektur, manusia, teknologi, konstruksi, dan kemungkinan kehidupan masa depan.
Pengantar
Jika modernisme mencari bahasa baru untuk zaman industri dan postmodernisme mengembalikan perhatian terhadap sejarah, simbol, serta makna, maka arsitektur kontemporer berada dalam keadaan yang jauh lebih terbuka.
Tidak ada satu gaya yang benar-benar mendominasi.
Bangunan dapat sangat minimalis atau sangat ekspresif. Struktur dapat disembunyikan atau justru menjadi bentuk utama. Material tradisional dapat berdampingan dengan kaca berteknologi tinggi. Sebuah rumah dapat dirancang dengan prinsip lokal, sementara gedung lain dibentuk menggunakan simulasi komputer.
Inilah salah satu ciri utama arsitektur kontemporer:
ia hidup dalam dunia dengan banyak kemungkinan sekaligus.
Apa yang Dimaksud Arsitektur Kontemporer?
Kata kontemporer pada dasarnya berarti semasa atau masa kini.
Karena itu, arsitektur kontemporer berbeda dari istilah seperti Gothic, Baroque, atau Modernisme yang menunjuk pada tradisi dan periode tertentu.
Arsitektur kontemporer terus bergerak karena “masa kini” juga terus berubah.
Bangunan yang dianggap sangat kontemporer hari ini suatu saat akan menjadi bagian dari sejarah.
Maka arsitektur kontemporer lebih tepat dipahami bukan sebagai satu bentuk, melainkan sebagai keadaan arsitektur pada zaman kita.
Ia menyerap berbagai warisan masa lalu sambil menghadapi persoalan baru yang belum pernah dihadapi arsitektur sebelumnya dalam skala yang sama.
Tidak Ada Lagi Satu Bahasa
Pada masa tertentu, sebuah gaya arsitektur dapat memiliki aturan yang cukup mudah dikenali.
Arsitektur kontemporer jauh lebih sulit dikelompokkan.
Satu arsitek dapat menggunakan beton ekspos dan geometri sederhana.
Arsitek lain menggunakan kayu dan material lokal.
Yang lain menciptakan bentuk melengkung kompleks menggunakan perangkat digital.
Sebagian mencoba membuat bangunan hampir menghilang ke dalam lanskap.
Sebagian justru membuat bangunan menjadi objek yang sangat mencolok.
Keragaman ini menunjukkan perubahan penting.
Pertanyaan arsitektur bukan lagi:
“Gaya apa yang harus digunakan?”
Melainkan:
“Apa yang dibutuhkan oleh proyek ini?”
Konteks Kembali Menjadi Penting
Salah satu kecenderungan penting dalam arsitektur kontemporer adalah perhatian terhadap konteks.
Sebuah bangunan tidak berdiri dalam ruang kosong.
Ia memiliki tapak.
Ada matahari.
Ada angin.
Ada hujan.
Ada jalan.
Ada bangunan di sekitarnya.
Ada sejarah.
Ada masyarakat yang menggunakan kawasan tersebut.
Karena itu, bentuk yang berhasil di satu tempat belum tentu tepat ketika dipindahkan ke tempat lain.
Bangunan di wilayah tropis, misalnya, menghadapi persoalan berbeda dari bangunan di wilayah dengan musim dingin panjang.
Arsitektur yang baik harus memahami kondisi tersebut sebelum menentukan bentuk.
Dalam pengertian ini, teknologi yang semakin maju justru membawa arsitektur kembali kepada pertanyaan yang sangat tua:
Di mana kita sedang membangun?
Komputer Mengubah Cara Arsitektur Dirancang
Salah satu perubahan terbesar dalam beberapa dekade terakhir adalah masuknya teknologi digital ke dalam proses desain.
Pada awalnya komputer banyak digunakan sebagai pengganti alat gambar manual.
Namun kemampuannya berkembang jauh melampaui itu.
Model tiga dimensi memungkinkan bangunan dipelajari sebelum dibangun. Simulasi dapat membantu menganalisis cahaya, energi, struktur, angin, dan berbagai kondisi lainnya.
Melalui Building Information Modeling atau BIM, bangunan dapat direpresentasikan sebagai kumpulan informasi yang menghubungkan bentuk dengan berbagai data teknis.
Komputer tidak lagi hanya menggambar arsitektur.
Ia ikut membantu menguji, mengoordinasikan, dan mengembangkan arsitektur.
Ketika Bentuk Dapat Dihitung
Perangkat digital juga memungkinkan perancang mengembangkan geometri yang sangat kompleks.
Permukaan melengkung, pola parametrik, struktur non-konvensional, dan bentuk yang dahulu sangat sulit digambar dapat dihitung melalui komputer.
Perkembangan ini ikut mendorong apa yang sering disebut parametric design.
Dalam pendekatan parametrik, perancang dapat menentukan hubungan atau aturan tertentu, kemudian bentuk berubah ketika parameter diubah.
Misalnya, ukuran bukaan fasad dapat berubah berdasarkan paparan matahari.
Jarak elemen struktur dapat menyesuaikan geometri.
Pola dapat merespons kondisi tertentu.
Dengan demikian, komputer tidak hanya digunakan untuk menggambar bentuk akhir.
Ia dapat digunakan untuk membangun sistem yang menghasilkan bentuk.
Frank Gehry dan Geometri Kompleks
Karya Frank Gehry menjadi salah satu contoh terkenal bagaimana teknologi digital membantu memungkinkan bentuk arsitektur yang kompleks diwujudkan.
Bangunan seperti Guggenheim Museum Bilbao menunjukkan permukaan dan volume yang sulit dijelaskan melalui geometri bangunan konvensional.
Namun bentuk yang terlihat bebas tetap membutuhkan ketepatan.
Setiap bagian harus dapat dihitung.
Struktur harus bekerja.
Material harus dapat dibuat.
Komponen harus dapat dipasang.
Di sinilah terdapat paradoks menarik arsitektur kontemporer:
semakin bebas bentuk terlihat, semakin besar ketepatan teknis yang mungkin diperlukan untuk mewujudkannya.
Zaha Hadid dan Ruang yang Mengalir
Karya Zaha Hadid juga menunjukkan eksplorasi besar terhadap geometri, gerakan, dan kontinuitas ruang.
Garis tidak selalu berhenti pada sudut siku-siku.
Lantai dapat terasa berubah menjadi dinding.
Dinding dapat mengalir menjadi atap.
Sirkulasi menjadi bagian dari komposisi bentuk.
Perkembangan perangkat digital kemudian membantu geometri semacam ini dirancang, dianalisis, dan dibangun dengan ketelitian yang semakin tinggi.
Namun pelajaran yang lebih penting bukan bahwa arsitektur kontemporer harus memiliki bentuk melengkung.
Teknologi hanya memperluas kemungkinan.
Kemungkinan bukan kewajiban.
Teknologi Fabrikasi Mengubah Cara Membangun
Revolusi digital tidak berhenti pada layar komputer.
Informasi digital dapat diteruskan menuju proses produksi.
Mesin CNC dapat memotong komponen berdasarkan model digital. Robot dapat membantu proses fabrikasi tertentu. Teknologi pencetakan tiga dimensi mulai digunakan dalam eksperimen dan beberapa aplikasi konstruksi.
Hubungan antara desain dan produksi menjadi semakin langsung.
Pada masa lalu, gambar arsitektur harus diterjemahkan kembali oleh banyak tahap pekerjaan manual.
Sekarang, dalam kondisi tertentu, data geometris dari model dapat digunakan untuk membantu mengendalikan mesin produksi.
Arsitektur memasuki dunia digital fabrication.
Perancang tidak hanya memikirkan bentuk.
Ia juga dapat memikirkan bagaimana informasi mengenai bentuk tersebut diterjemahkan menjadi benda fisik.
Keberlanjutan Menjadi Persoalan Utama
Namun kemajuan teknologi membawa persoalan yang jauh lebih besar.
Bangunan membutuhkan material.
Material harus ditambang, diproduksi, dan diangkut.
Bangunan menggunakan energi selama masa operasinya.
Konstruksi menghasilkan limbah.
Kota mengubah tanah, air, vegetasi, dan ekosistem.
Karena skala pembangunan dunia sangat besar, dampaknya juga besar.
Akibatnya, sustainability atau keberlanjutan menjadi salah satu persoalan utama arsitektur kontemporer.
Pertanyaan desain tidak lagi cukup berhenti pada:
Apakah bangunan ini indah?
Apakah bangunan ini berfungsi?
Pertanyaan lain harus ikut diajukan:
Berapa banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat dan mengoperasikannya?
Kembali kepada Desain Pasif
Menariknya, sebagian solusi terhadap persoalan modern justru membawa arsitektur kembali kepada pengetahuan yang sangat tua.
Orientasi terhadap matahari.
Ventilasi alami.
Naungan.
Courtyard.
Vegetasi.
Pemanfaatan cahaya alami.
Pengendalian panas melalui bentuk dan material.
Prinsip-prinsip tersebut telah digunakan dalam berbagai tradisi arsitektur selama berabad-abad.
Teknologi modern memungkinkan semuanya dianalisis dengan lebih presisi, tetapi gagasan dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Di sinilah arsitektur kontemporer dapat mempertemukan dua dunia:
pengetahuan tradisional dan teknologi modern.
Bangunan tidak harus memilih salah satunya.
Material Kembali Dipertanyakan
Arsitektur kontemporer juga semakin memperhatikan asal dan siklus hidup material.
Tidak cukup hanya bertanya apakah material kuat atau indah.
Dari mana material berasal?
Berapa banyak energi yang digunakan untuk memproduksinya?
Berapa lama material dapat bertahan?
Dapatkah ia diperbaiki?
Dapatkah digunakan kembali?
Apa yang terjadi ketika bangunan dibongkar?
Pertanyaan tersebut memperluas cara kita memahami material.
Material tidak lagi hanya dilihat ketika sudah terpasang pada bangunan.
Ia memiliki kehidupan sebelum dan sesudah bangunan.
Bangunan Lama Tidak Selalu Harus Dihancurkan
Salah satu pendekatan penting dalam arsitektur masa kini adalah adaptive reuse—menggunakan kembali bangunan lama untuk fungsi baru.
Pabrik dapat menjadi galeri.
Gudang dapat menjadi kantor.
Rumah lama dapat berubah menjadi restoran.
Bangunan industri dapat menjadi ruang publik.
Pendekatan ini mempunyai nilai budaya sekaligus potensi lingkungan.
Struktur yang masih berguna tidak harus dibuang.
Energi dan material yang telah digunakan untuk membuatnya dapat dipertahankan.
Jejak sejarah juga tetap hadir.
Arsitektur kemudian tidak selalu berarti membangun sesuatu dari nol.
Kadang tindakan desain terbaik adalah menemukan kehidupan baru bagi sesuatu yang sudah ada.
Kota Menjadi Semakin Padat
Lebih dari separuh populasi dunia kini hidup di wilayah perkotaan, dan urbanisasi terus menjadi salah satu kekuatan besar yang membentuk arsitektur.
Kepadatan menciptakan kebutuhan baru.
Lahan menjadi mahal.
Bangunan tumbuh vertikal.
Transportasi menjadi semakin penting.
Perumahan harus menampung lebih banyak manusia.
Ruang publik menghadapi tekanan.
Arsitektur tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan kota sendirian, tetapi setiap bangunan ikut membentuk kota.
Sebuah gedung tidak berhenti pada batas tanahnya.
Entrance memengaruhi trotoar.
Fasad memengaruhi karakter jalan.
Bayangan memengaruhi ruang sekitar.
Aktivitas lantai dasar dapat membuat jalan hidup atau mati.
Karena itu, arsitektur kontemporer harus kembali memahami bahwa bangunan selalu memiliki konsekuensi di luar dirinya sendiri.
Rumah Berubah Bersama Cara Hidup
Perubahan teknologi juga memengaruhi ruang domestik.
Pekerjaan dapat dilakukan dari rumah.
Belanja dapat dilakukan melalui internet.
Perangkat pintar dapat mengendalikan pencahayaan, keamanan, temperatur, dan berbagai sistem lainnya.
Ruang yang dahulu memiliki fungsi tetap dapat berubah menjadi lebih fleksibel.
Ruang makan dapat menjadi ruang kerja.
Ruang keluarga dapat menjadi tempat pertemuan daring.
Rumah tidak lagi hanya menjadi tempat kembali setelah aktivitas selesai di luar.
Dalam banyak situasi, rumah menjadi tempat di mana berbagai aktivitas dunia luar masuk melalui jaringan digital.
Akibatnya, batas antara rumah, kantor, hiburan, dan komunikasi menjadi semakin kabur.
Artificial Intelligence Memasuki Arsitektur
Perkembangan terbaru membawa kecerdasan buatan ke dalam proses desain.
AI dapat membantu menghasilkan alternatif, menganalisis informasi, mencari pola, membuat visualisasi, mengoptimalkan parameter tertentu, serta mempercepat berbagai pekerjaan.
Kemampuan tersebut akan terus berkembang.
Namun seperti komputer sebelumnya, AI menimbulkan pertanyaan penting:
Jika mesin dapat menghasilkan ribuan kemungkinan bentuk, siapa yang menentukan mana yang layak dibangun?
Kecepatan menghasilkan desain tidak sama dengan kemampuan menilai desain.
Algoritma dapat membantu mencari kemungkinan.
Tetapi arsitektur tetap berhadapan dengan manusia, tempat, biaya, budaya, keselamatan, lingkungan, dan konsekuensi jangka panjang.
Teknologi memperbesar kemampuan.
Ia juga memperbesar tanggung jawab.
Bentuk Spektakuler atau Bangunan yang Bekerja?
Teknologi digital memungkinkan bentuk yang semakin spektakuler.
Media sosial juga membuat gambar arsitektur dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.
Akibatnya muncul godaan baru:
bangunan dirancang agar terlihat luar biasa dalam gambar.
Namun arsitektur tidak hidup hanya sebagai gambar.
Atap tetap harus menghadapi hujan.
Fasad tetap menerima panas matahari.
Pengguna tetap harus menemukan pintu.
Bangunan tetap membutuhkan perawatan.
Material tetap menua.
Energi tetap digunakan.
Karena itu, kualitas arsitektur tidak dapat dinilai hanya dari seberapa unik bentuknya.
Arsitektur harus bertahan setelah efek pertama dari sebuah gambar menghilang.
Lokal dan Global Bertemu
Arsitektur kontemporer hidup dalam dunia global.
Material dapat berasal dari negara lain.
Arsitek dapat merancang proyek ribuan kilometer dari kantornya.
Gambar dapat dikirim secara digital.
Teknologi konstruksi menyebar dengan cepat.
Referensi desain dapat dilihat siapa pun melalui internet.
Namun bangunan tetap berdiri di satu koordinat tertentu.
Hujan yang mengenainya adalah hujan lokal.
Matahari yang memanaskannya adalah matahari di tempat tersebut.
Manusia yang menggunakannya memiliki kebiasaan tertentu.
Karena itu, tantangan besar arsitektur kontemporer adalah menggunakan pengetahuan global tanpa kehilangan kecerdasan lokal.
Tidak Ada Lagi Alasan untuk Sekadar Meniru
Kita hidup pada masa ketika hampir seluruh sejarah arsitektur dapat dilihat melalui layar.
Dalam beberapa menit seseorang dapat melihat piramida Mesir, Parthenon, katedral Gothic, rumah Jepang, masjid Persia, vila Palladio, karya Le Corbusier, hingga bangunan terbaru di dunia.
Akses tersebut luar biasa.
Tetapi ia juga menciptakan risiko besar: arsitektur menjadi katalog bentuk untuk disalin.
Padahal sejarah yang telah kita pelajari menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Bentuk selalu mempunyai sebab.
Piramida berhubungan dengan material, kekuasaan, dan gagasan zamannya.
Gothic lahir bersama perkembangan struktur.
Modernisme berkembang bersama teknologi industri.
Arsitektur Nusantara tumbuh melalui hubungan panjang dengan iklim dan budaya setempat.
Karena itu, mempelajari sejarah seharusnya tidak membuat kita memiliki lebih banyak bentuk untuk ditiru.
Ia seharusnya membuat kita memiliki lebih banyak cara untuk berpikir.
Arsitektur Kontemporer adalah Pertanyaan Terbuka
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti seperti apa arsitektur seratus tahun mendatang.
Material baru akan muncul.
Kecerdasan buatan akan berkembang.
Robotika dan fabrikasi digital mungkin mengubah konstruksi.
Perubahan iklim akan memaksa bangunan beradaptasi.
Kota akan berubah.
Cara manusia bekerja dan tinggal mungkin berubah.
Tetapi satu hal kemungkinan besar tetap sama.
Arsitektur akan terus berada di antara manusia dan dunia yang ditempatinya.
Teknologi dapat berubah.
Gaya dapat berganti.
Material dapat berkembang.
Namun bangunan tetap harus berhadapan dengan tubuh manusia, gravitasi, cahaya, air, udara, tanah, waktu, dan kehidupan.
Karena itu, arsitektur kontemporer mungkin tidak membutuhkan satu bahasa tunggal.
Ia membutuhkan kemampuan untuk memilih dengan tepat dari kemungkinan yang semakin banyak.
Kemajuan arsitektur bukanlah ketika manusia dapat membuat bentuk apa pun yang dibayangkan.
Kemajuan terjadi ketika manusia memiliki kemampuan yang semakin besar, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang layak dibangun, mengapa ia dibangun, untuk siapa ia dibangun, dan bagaimana ia akan hidup bersama tempatnya.
Itulah tantangan arsitektur kontemporer.
Pengetahuan tidak dikumpulkan untuk berhenti sebagai teori. Ia digunakan untuk mempertajam cara membaca kehidupan, menjaga ketepatan keputusan, dan membawa kemungkinan menuju arsitektur yang dapat diwujudkan.



