GESER UNTUK MEMASUKI

INTERNATIONAL ARCHITECTURE · DESIGN STUDIO

Modernisme dan Pencarian Bahasa Baru

Volume 02 · Sejarah Arsitektur dan Peradaban · 10 menit membaca.

GS / 2026ARCHITECTURE BEYOND TOMORROW

Tulisan Modernisme dan Pencarian Bahasa Baru merupakan bagian dari Pustaka Graha Svarga—ruang pengetahuan yang mempertemukan arsitektur, manusia, teknologi, konstruksi, dan kemungkinan kehidupan masa depan.

Pengantar

Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dunia telah berubah jauh lebih cepat daripada bahasa arsitektur yang digunakan untuk menggambarkannya.

Baja memungkinkan bangunan semakin tinggi. Beton bertulang membuka kemungkinan struktur baru. Kaca dapat digunakan dalam bidang yang semakin luas. Elevator mengubah hubungan manusia dengan ketinggian. Mobil mulai mengubah kota. Pabrik menghasilkan benda secara massal.

Namun banyak bangunan masih menggunakan bahasa visual dari masa lalu.

Gedung dengan struktur baja dapat dibungkus seperti istana klasik. Bangunan modern diberi kolom, pedimen, dan ornamen historis yang sebenarnya tidak lagi diperlukan oleh konstruksinya.

Muncullah pertanyaan besar:

Jika cara hidup dan cara membangun telah berubah, mengapa arsitektur harus terus terlihat seperti masa lalu?

Dari pertanyaan inilah modernisme mulai mencari bahasa arsitektur baru.

Meninggalkan Peniruan Sejarah

Selama abad ke-19, berbagai gaya historis digunakan kembali dalam arsitektur Eropa dan Amerika.

Ada bangunan bergaya Gothic Revival, Classical Revival, Renaissance Revival, dan berbagai bentuk historisisme lainnya.

Bagi generasi baru arsitek, pendekatan tersebut mulai terasa tidak sesuai dengan zamannya.

Mereka tidak selalu menolak sejarah itu sendiri.

Yang dipersoalkan adalah kebiasaan menyalin bentuk masa lalu tanpa hubungan yang jelas dengan teknologi dan kehidupan masa kini.

Jika struktur dibuat dari baja, mengapa harus berpura-pura menjadi konstruksi batu kuno?

Jika kaca memungkinkan bukaan besar, mengapa fasad harus tetap mengikuti keterbatasan dinding tradisional?

Modernisme mulai mencari kejujuran baru antara fungsi, struktur, material, dan bentuk.

“Form Follows Function”

Salah satu kalimat yang paling terkenal dalam perkembangan arsitektur modern berasal dari arsitek Amerika Louis Sullivan:

“Form follows function.”

Secara sederhana, bentuk seharusnya memiliki hubungan dengan fungsi.

Namun prinsip ini tidak berarti semua bangunan harus menjadi kotak polos.

Gagasan yang lebih penting adalah bahwa bentuk tidak seharusnya hanya ditentukan oleh dekorasi atau kebiasaan historis.

Bangunan kantor mempunyai kebutuhan berbeda dari rumah.

Pabrik berbeda dari museum.

Sekolah berbeda dari stasiun.

Ruang dan bentuk seharusnya berkembang dari apa yang harus terjadi di dalamnya.

Fungsi mulai memperoleh posisi yang semakin penting dalam proses perancangan.

Struktur Tidak Perlu Disembunyikan

Modernisme juga membawa perhatian baru terhadap kejujuran material dan struktur.

Jika beton digunakan, beton dapat diperlihatkan sebagai beton.

Jika baja membentuk struktur, logika struktur tersebut tidak harus disembunyikan di balik dekorasi yang berpura-pura menjadi sistem lain.

Material tidak perlu selalu menyamar.

Prinsip ini menghasilkan bahasa arsitektur yang semakin sederhana.

Ornamen historis mulai berkurang.

Garis struktur menjadi lebih jelas.

Bidang dinding menjadi lebih bersih.

Bentuk bangunan mulai menunjukkan bagaimana ia dibuat.

Konstruksi perlahan menjadi bagian dari ekspresi arsitektur itu sendiri.

Adolf Loos dan Kritik terhadap Ornamen

Salah satu tokoh yang terkenal dalam perdebatan mengenai ornamen adalah Adolf Loos.

Dalam esainya Ornament and Crime, ia melontarkan kritik keras terhadap penggunaan ornamen yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan masyarakat modern.

Pandangan Loos tidak dapat disederhanakan menjadi larangan mutlak terhadap semua dekorasi.

Namun gagasannya memperkuat perubahan besar yang sedang terjadi.

Arsitektur mulai mempertanyakan:

Apakah sebuah elemen benar-benar diperlukan?

Apakah ia mempunyai fungsi?

Apakah material sudah memiliki keindahan tanpa harus ditutupi?

Apakah kualitas dapat muncul dari proporsi, ruang, detail, dan material daripada dari banyaknya dekorasi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sangat penting bagi modernisme.

Beton Bertulang dan Kebebasan Baru

Salah satu teknologi yang sangat memengaruhi arsitektur modern adalah beton bertulang.

Beton sangat baik menahan tekanan, sementara baja tulangan membantu mengatasi gaya tarik.

Gabungan keduanya menghasilkan sistem struktur yang memberikan kebebasan baru.

Kolom dapat menopang pelat.

Dinding tidak selalu harus menjadi penopang utama.

Bukaan dapat diperbesar.

Denah dapat menjadi lebih bebas.

Bangunan dapat memiliki bentuk yang sulit dicapai dengan konstruksi dinding masif tradisional.

Sekali lagi sejarah memperlihatkan pola yang sama:

ketika struktur berubah, ruang ikut berubah.

Le Corbusier dan Lima Prinsip Arsitektur Baru

Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam modernisme adalah Le Corbusier.

Ia melihat rumah modern dalam hubungan dengan zaman industri dan pernah menggambarkannya sebagai machine à habiter—mesin untuk dihuni.

Gagasan tersebut bukan berarti manusia harus tinggal di dalam mesin secara harfiah.

Ia menunjukkan ketertarikan terhadap efisiensi, rasionalitas, teknologi, dan ketepatan yang terlihat pada dunia industri.

Le Corbusier kemudian merumuskan Five Points of a New Architecture.

Salah satunya adalah pilotis: bangunan diangkat menggunakan kolom sehingga lantai dasar dapat lebih bebas.

Kemudian free plan: karena struktur utama ditanggung rangka, pembagian ruang tidak sepenuhnya bergantung pada dinding struktural.

Free facade memberikan kebebasan lebih besar pada komposisi kulit bangunan.

Horizontal window memungkinkan bukaan memanjang.

Sedangkan roof garden mengembalikan bagian atap sebagai ruang yang dapat digunakan.

Kelima prinsip tersebut menunjukkan bagaimana teknologi struktur baru dapat menghasilkan bahasa ruang baru.

Villa Savoye

Salah satu bangunan yang sering digunakan untuk menjelaskan gagasan Le Corbusier adalah Villa Savoye di Poissy, Prancis.

Bangunan tersebut tampak seperti volume putih yang diangkat dari tanah oleh kolom-kolom ramping.

Denahnya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh dinding penopang.

Jendela horizontal membentang pada fasad.

Ramp menghubungkan perjalanan melalui beberapa tingkat.

Atap digunakan sebagai bagian dari pengalaman ruang.

Villa Savoye menunjukkan bahwa modernisme bukan sekadar menghilangkan ornamen.

Ia mencoba menyusun ulang hubungan antara struktur, denah, fasad, sirkulasi, dan ruang.

Bauhaus: Seni Bertemu Industri

Di Jerman, Bauhaus menjadi salah satu institusi paling berpengaruh dalam perkembangan desain modern.

Didirikan oleh Walter Gropius pada 1919, Bauhaus mencoba mempertemukan seni, kerajinan, desain, teknologi, dan produksi industri.

Gagasannya sangat penting.

Jika dunia telah memasuki zaman produksi massal, desain tidak seharusnya hanya melayani benda unik untuk kelompok kecil masyarakat.

Desain dapat bekerja bersama industri untuk menghasilkan benda dan lingkungan yang baik dalam jumlah besar.

Furnitur, tipografi, produk, interior, dan arsitektur mulai dipikirkan sebagai bagian dari dunia desain yang saling berhubungan.

Arsitek tidak hanya merancang fasad.

Ia dapat memikirkan keseluruhan lingkungan manusia.

Mies van der Rohe dan “Less Is More”

Tokoh penting lainnya adalah Ludwig Mies van der Rohe.

Namanya sering dikaitkan dengan ungkapan:

“Less is more.”

Kesederhanaan dalam karya Mies bukan berarti bangunan dibuat asal sedikit.

Justru ketika elemen dikurangi, ketepatan menjadi semakin penting.

Proporsi harus tepat.

Sambungan harus bersih.

Material harus berkualitas.

Struktur harus teratur.

Detail kecil menjadi sangat terlihat.

Dalam pendekatan seperti ini, kemewahan tidak harus berasal dari banyaknya ornamen.

Ia dapat muncul dari ketepatan ruang, material, struktur, dan detail.

Prinsip tersebut kemudian memberikan pengaruh sangat besar terhadap arsitektur minimalis dan desain bangunan modern hingga sekarang.

Kaca Mengubah Fasad

Struktur rangka baja dan beton memberikan kebebasan baru terhadap dinding.

Ketika dinding tidak lagi harus menopang seluruh bangunan, fasad dapat menjadi semakin ringan.

Kaca kemudian memperoleh peran besar.

Pada gedung bertingkat, perkembangan ini akhirnya menghasilkan curtain wall—kulit bangunan yang digantung pada struktur dan tidak bekerja sebagai dinding penopang utama.

Akibatnya, bangunan modern dapat memiliki permukaan kaca yang sangat luas.

Hubungan antara struktur dan kulit benar-benar berubah.

Pada bangunan tradisional:

dinding adalah struktur sekaligus pembatas.

Pada banyak bangunan modern:

struktur berdiri di dalam, sementara kulit membungkusnya.

Pemisahan ini membuka kemungkinan arsitektur yang sama sekali baru.

Denah Menjadi Lebih Bebas

Ketika kolom mengambil alih banyak tugas struktural dari dinding, organisasi interior memperoleh fleksibilitas.

Dinding dapat ditempatkan berdasarkan kebutuhan ruang, bukan hanya berdasarkan kebutuhan struktur.

Ini menghasilkan konsep free plan.

Perubahan tersebut sangat penting.

Ruang dapat mengalir.

Batas dapat menjadi lebih fleksibel.

Interior dapat berubah tanpa harus mengubah seluruh struktur utama.

Gagasan open plan yang sangat umum pada rumah dan kantor masa kini memiliki hubungan dengan perkembangan panjang ini.

Sekali lagi, kebebasan ruang muncul karena perubahan teknologi struktur.

Arsitektur untuk Banyak Manusia

Modernisme berkembang ketika kota menghadapi kebutuhan perumahan dalam jumlah besar.

Industrialisasi dan urbanisasi telah membawa populasi besar menuju kota. Perang Dunia juga menghancurkan banyak wilayah dan menghasilkan kebutuhan pembangunan kembali.

Arsitektur kemudian menghadapi persoalan sosial:

bagaimana menyediakan hunian yang sehat dan layak bagi banyak manusia?

Standardisasi, prefabrikasi, modul, dan produksi massal terlihat menjanjikan.

Jika industri dapat menghasilkan mobil dan barang dalam jumlah besar, mungkinkah prinsip serupa digunakan untuk menghasilkan perumahan berkualitas?

Pertanyaan tersebut mendorong banyak eksperimen arsitektur dan perencanaan kota modern.

Ketika Kota Dipandang sebagai Mesin

Pemikiran modernis tidak berhenti pada satu bangunan.

Sebagian perancang mencoba mengatur seluruh kota secara rasional.

Fungsi dipisahkan.

Tempat tinggal berada di satu zona.

Industri berada di tempat lain.

Jalan dirancang untuk kendaraan.

Bangunan tinggi dapat dikelilingi ruang terbuka.

Secara diagram, sistem ini terlihat teratur.

Namun kehidupan kota ternyata jauh lebih rumit daripada diagram.

Manusia membutuhkan interaksi spontan, jalan yang hidup, usaha kecil, variasi, kedekatan, sejarah, dan berbagai kondisi yang tidak selalu dapat direncanakan melalui pembagian fungsi yang terlalu kaku.

Di sinilah sebagian kelemahan modernisme mulai terlihat.

International Style

Pada perkembangan berikutnya, ciri-ciri modernisme menyebar ke banyak negara.

Bangunan dengan bentuk geometris sederhana, struktur rasional, atap datar, bidang kaca besar, dan sedikit ornamen muncul di berbagai kota.

Bahasa tersebut kemudian sering dikaitkan dengan istilah International Style.

Ada optimisme besar di baliknya.

Jika teknologi modern bersifat universal, mungkin arsitektur juga dapat memiliki bahasa universal.

Namun muncul masalah.

Iklim Jakarta berbeda dari Berlin.

Budaya Jepang berbeda dari Amerika.

Cara hidup di India berbeda dari Prancis.

Bangunan kaca yang bekerja pada satu kondisi belum tentu sesuai untuk kondisi lain.

Keinginan menciptakan bahasa universal akhirnya berhadapan dengan kenyataan bahwa arsitektur selalu berada di suatu tempat tertentu.

Ketika Modernisme Menjadi Terlalu Seragam

Modernisme lahir sebagai pemberontakan terhadap peniruan masa lalu.

Namun ketika prinsip-prinsipnya kemudian digunakan secara luas, modernisme sendiri dapat berubah menjadi formula.

Kotak.

Kaca.

Beton.

Atap datar.

Warna netral.

Ornamen dihilangkan.

Bangunan di berbagai negara mulai terlihat serupa.

Ironisnya, gerakan yang awalnya ingin membebaskan arsitektur dari gaya lama akhirnya dapat menghasilkan gaya baru yang juga ditiru tanpa memahami alasannya.

Masalahnya bukan pada kotak atau beton.

Masalahnya kembali sama seperti sebelumnya:

menyalin bentuk tanpa memahami prinsip.

Modernisme Bukan Satu Gerakan Tunggal

Penting untuk tidak melihat modernisme sebagai satu kelompok dengan satu pandangan.

Frank Lloyd Wright memiliki pendekatan berbeda dari Le Corbusier.

Mies van der Rohe berbeda dari Alvar Aalto.

Bauhaus memiliki perkembangan dan perdebatan internalnya sendiri.

Di berbagai negara, gagasan modern bertemu dengan kondisi lokal dan menghasilkan pendekatan berbeda.

Karena itu, modernisme lebih tepat dipahami sebagai periode pencarian besar.

Para arsitek mencoba menjawab dunia baru dengan material, teknologi, masyarakat, dan cara hidup yang baru.

Jawaban mereka tidak selalu sama dan tidak selalu berhasil.

Pelajaran Modernisme

Modernisme meninggalkan pengaruh luar biasa terhadap dunia yang kita tinggali sekarang.

Apartemen, gedung perkantoran, rumah minimalis, fasad kaca, denah terbuka, struktur rangka, furnitur modern, konstruksi modular, hingga banyak prinsip desain kontemporer memiliki hubungan dengan perubahan yang terjadi pada periode ini.

Namun pelajaran terpenting modernisme bukanlah bahwa bangunan harus sederhana.

Pelajarannya adalah keberanian untuk bertanya:

Mengapa kita membangun seperti ini?

Apakah sebuah bentuk masih diperlukan?

Apakah material digunakan sesuai sifatnya?

Apakah struktur dan ruang mempunyai hubungan?

Apakah bangunan sesuai dengan cara manusia hidup sekarang?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada gaya visual yang akhirnya dihasilkan.

Setiap Zaman Mencari Bahasanya Sendiri

Renaisans melihat kembali dunia klasik dan menerjemahkannya untuk zamannya.

Revolusi Industri kemudian mengubah material, mesin, produksi, dan kota.

Modernisme menghadapi konsekuensi perubahan tersebut dan mencoba melepaskan arsitektur dari ketergantungan terhadap bentuk masa lalu.

Baja tidak harus berpura-pura menjadi batu.

Beton tidak harus disembunyikan.

Dinding tidak harus menjadi struktur.

Rumah tidak harus menyerupai istana.

Pabrik tidak harus dihias seperti kuil.

Arsitektur dapat berbicara dengan bahasa zamannya sendiri.

Tetapi modernisme juga meninggalkan peringatan.

Bahasa baru dapat menjadi dogma baru ketika prinsip berubah menjadi formula.

Karena itu, warisan modernisme yang paling berharga bukanlah kotak putih, kaca, beton, atau atap datar.

Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk mencari hubungan yang jujur antara zaman, teknologi, fungsi, material, ruang, dan manusia.

Dan pertanyaan yang diajukannya masih relevan hingga hari ini:

Jika dunia terus berubah, seperti apa bahasa arsitektur yang benar-benar sesuai dengan kehidupan manusia sekarang?

JEJAK PEMIKIRAN GRAHA SVARGA

Pengetahuan tidak dikumpulkan untuk berhenti sebagai teori. Ia digunakan untuk mempertajam cara membaca kehidupan, menjaga ketepatan keputusan, dan membawa kemungkinan menuju arsitektur yang dapat diwujudkan.

PENULIS

Setio Utomo

Founder dan Principal Designer Graha Svarga. Menarik kemungkinan menuju kenyataan melalui desain, BIM, visualisasi arsitektur, dan pengalaman pembangunan.

Mengenal pemikirannya →
Arsitektur masa depan Graha Svarga sebagai penutup artikel Modernisme dan Pencarian Bahasa Baru
GRAHA SVARGA · ARCHITECTURE BEYOND TOMORROWPengetahuan mengubah cara kita melihat. Graha Svarga membawanya kembali menuju ruang yang dapat dihuni.
WAKonsultasi